Selasa, 31 Januari 2012

Mengenang Mad Kodak




Pada tanah kuburan yang kecoklatan, menerobos tegak nisan putih di antara hamparan warna-warni bunga makam. Rabu siang itu matahari amat menyengat. Pada bagian atas nisan yang baru dipancangkan itu terbaca nama Ed Zoelverdi bin Halim yang ditulis tangan dengan kuas dan cat hitam. Persis di bawahnya tertera Banda Aceh 12-03-1943 Jakarta 4-01-2012. Sebentuk periode perjalanan waktu seorang anak manusia yang mewarnai samudra jurnalisme fotografi Indonesia dengan gayanya, sampai maut menjemputnya pada usia 68 tahun. Di ranjang gering, di kediaman tetangga sekaligus sahabatnya, ibu Fatimah, yang meminjamkan ruang untuk perawatan Ed setelah sempat di rawat di RS Persahabatan.

Perkabungan baru saja usai. Satu persatu sejawat dan orang-orang tercinta pewarta foto kawakan tersebut berjalan gontai meninggalkan arena pemakaman di kawasan TPU Kemiri yang letaknya tak jauh dari areal golf Rawamangun. Suasana haru biru tertelan deru dan klakson kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Sekarang nisan bertuliskan nama Ed, tinggal sendirian di sana. Aroma minyak wangi yang amat menyengat hidung menyeruak dari kerumunan bunga-bunga makam yang tadi ditaburkan segenap pelayat. Pada tanah itu jasad Ed telah menyatu ke asalnya. Dari tanah kembali ke tanah. Jiwanya kini tenteram dalam keabadian, nun tinggi di ufuk cakrawala infiniti sana.

Pemakaman insan pers di usia senjanya, seringkali merefleksikan paradox profesi jurnalisme dalam wajahnya yang hakiki. Suatu profesi yang ditempuh dalam hingar realitas penuh warna dan gairah reportase yang menembus kelas juga strata, melintasi profesi yang ada dalam tatanan peradaban masyarakat. Dari penguasa negeri hingga kehidupan bawah tanah yang perih. Pers memang dilahirkan untuk mewartakan kehidupan, termasuk episoda kematian yang menjadi bagian dari rentang waktu yang bagaimanapun selalu ada ujungnya.

Tak pernah ada pesta yang tak usai. Dalam prosesi pemakaman, baik kuli tinta dan juga kuli citra seperti Ed, selalu ada "reuni" keluarga besar pers. Semacam silaturahmi di antara pelayat pers yang masih hidup, seraya menebak-nebak siapa lagi di antara mereka yang segera menyusul. Ujung senja profesi ini nyaris selalu miris, seperti cahya oncor yang terus meredup. Meskipun kita tahu kirana pantang padam, karena lorong jaman tak boleh dibiarkan gelap gulita. Dalam kerentanannya sekalipun, mestinya segenap organisasi profesi yang ada di tanah air wajib menghapus pemeo yang menyebutkan kematian wartawan hanya mewariskan derita bagi keluarga yang ditinggalkannya.

Ed dalam karirnya di bidang fotografi jurnalistik jelas meletakkan pondasi visual bagi majalah Tempo yang diabdinya. Majalah berita yang berpengaruh dalam blantika pers nasional. Sebagai pribadi, Ed juga melengkapi karirnya dengan meluncurkan buku yang membuat kosa kata "Mat Kodak" menjadi sebutan lain untuk profesi pewarta foto. Buku fotografi jurnalistik, "Mat Kodak Melihat Untuk Sejuta Mata" (112 halaman) yang diterbitkan Grafitipers pada 1985 adalah tonggak baru dalam blantika jurnalisme visual setelah imaji-imaji sejarah dilakukan oleh Mendur Bersaudara dan IPPHOS menjadi pondasi awal fotografi jurnalistik modern Indonesia. Mat Kodak kemudian mengisi kelangkaan referensi kepustakaan foto jurnalistik pada jamannya, apalagi buku yang ditulis oleh anak negeri. Ed meluncurkan buku perdananya pada karir emasnya. Satu dekade berikutnya, Ed menjadi sumber utama fotografi jurnalistik di tanah air. Walau terkesan arogan, Ed adalah pribadi yang sangat terbuka pada generasi muda dalam membagi ilmunya.

Dalam bio di buku Mat Kodak dikisahkan, Ed adalah bungsu dari 10 bersaudara. Orangtuanya berasal dari Kotagadang, Bukittinggi. Sejak kecil dia telah tertarik dengan foto di suratkabar. Jadilah koran keluarga "Indonesia Raya" sebagai korbannya, karena Ed selalu memporandakannya dengan mengguntingnya untuk dijadikan kliping koleksi pribadi. Masih pada era 1950-an, Ed kecil mulai tertarik memindahkan citra foto di koran ke kertas dengan lilin, lalu pemberangusan "Indonesia Raya" dari tangan jahilnyapun terhenti.

Hijrah ke Jakarta. Ed lulus dari sekolah PSKD, sempat bekerja di Djakarta Lloyd 1962-1964, sebelum dia memutuskan menjadi pembantu lepas di sejumlah koran di Jakarta sejak 1965. Ed mulai masuk ke dunia pers sebagai ilustrator dan karikaturis (dia tertarik seni-lukis, sempat belajar pada Nashar dan Oesman Effendi) di harian Duta Revolusi, Djakarta Minggu dan di harian Kami. Di Kami, Ed mengembangkan karirnya sebagai penulis. Dengan alias Batara Odin dan Matoari, Ed mengasuh pojok khusus "Jangan Dilewatkan". Secara khusus Ed kemudian mulai berkenalan langsung dunia fotografi. Belajar otodidak. Kelak tulisannya di seputar fotografi pers muncul di Kompas, Sinar Harapan, Zaman, berkala Pers Indonesia dan tentu saja Tempo.

Di mingguan Tempo, Ed bergabung sejak janinnya di Senen, 1971. Dua tahun sebelumnya dia sempat menjadi fotografer kontrakan untuk dokumentasi acara-acara di PKJ TIM. Di Tempo Ed berkelana dari "desk" ke "desk". Pernah jadi Redaktur Foto, Redaktur Daerah-Kota, Pokok-Tokoh sebelum nangkring kembali sebagai Redaktur Foto. Kefasihannya menulis, kata Ed pada suatu ketika, dipoles oleh Goenawan Mohamad. Melalui bidangnya Ed sempat mengunjungi sejumlah negeri termasuk Jepang, Belgia, Belanda, Perancis, Ingris dan beberapa negara Asean. Ed adalah ikon fotografi jurnalistik kita.

Di usia senjanya - setelah sempat bergabung dengan majalah Gatra - sebagai redpel, Ed mulai fokus mengajar fotografi jurnalistik di FISIP UI. Dia lalu memutuskan untuk mengontrakkan rumahnya di bilangan Mirah Delima, Sumur Batu, dan menyewa rumah di Depok agar dekat dengan tempatnya mengajar di kampus UI. Sejak awal 2011, Ed tak lagi berani menyetir Mercy antiknya, karena matanya mulai rabun dan beberapa kali mengalami kecelakaan kecil karena faktor penglihatan itu. Setelah itu kesehatan Ed yang perokok berat itu mulai menurun. Dia dilarikan ke RS Persahabatan pada bulan Desember karena gangguan pernafasan yang akut. Majalah Gatra berkenan membiayai ongkos perawatan di sana. Sampai pada hari-hari ujungnya, saat dia kembali lagi ke kawasan Mirah Delima, kali ini di rumah Fatimah yang berbaik hati meminjamkannya. Di rumah sahabatnya itulah Ed mengikhlaskan jiwanya atas kehendak Ilahi. Dia beristirahat di tempat yang dikehendaki Tuhan, bukan di lokasi yang dicita-citakannya, di Bukittinggi, Sumbar, kampung halamannya. Tempat dimana dia ingin membangun museum fotografi sekaligus menikmati hari tuanya dengan bahagia.


oscar motuloh
pewarta foto Antara

Jumat, 27 Januari 2012

Clipper Round the World 11-12 Yacht Race






Clipper Round the World 11-12 Yacht Race kembali menyambangi Batam, Kamis (26/1). Clipper Round the World merupakan reli kapal layar keliling dunia yang akan melalui 16 pelabuhan di 14 negara termasuk Indonesia. Reli ini merupakan yang keempat kalinya diselenggarakan dan Batam tak pernah absen untuk disinggahi.

Even yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali ini diikuti 10 kapal layar tipe mono hull dengan panjang 68 feet dan setiap kapalnya diawaki 15 orang. kesepuluh kapal itu adalah Edinburgh Inspiring Capital, New York, Singapore, Welcome To Yorkshire, Visit Finland, Qingdao, Gold Coast Australia, geraldto Western Australia, De large Landen dan Derry-London Derry.

Sedangkan 16 pelabuhan yang akan dilewati adalah Southampton (Inggris), Madeira (Brazil), Rio De Jainero (Brazil), cape Town (Afrika Selatan), Geraldton (Australia), New Zealand, Gold Coast (Australia), Nongsa Point Marina Batam (Indonesia), Marina Keppel Bay (Singapura), Qingdao (Cina), California (AS), Panama, New York (AS), Nova Scotia (Kanada) Derry Londonderry (Irlandia) dan Belanda.

Nongsa Point Marina Batam (Indonesia) merupakan pelabuhan kedelapan yang disinggahi peserta reli setelah start dari Gold Coast, Australia. "Kapal yang pertama masuk Gold Coast Australia tanggal 23 kemarin," kata Asistent Marina Manager Dwi Hartana. Peserta reli akan kembali belayar Sabtu (28/1) dini hari menuju Marina Keppel Bay, Singapura.

Menurut Direktur Nongsa Point Marina & Resort, Dance Wongkaren, Clipper Round the World 11-12 Yacht Race ini menempuh perjalanan mengarungi samudra sejauh 40 ribu mil yang akan menghabiskan waktu selama 11 bulan. "Ini adalah reli kapal layar paling prestisius di dunia dan kami sangat bangga bisa sisinggahi para peserta reli," kata Dance.

Clipper round the World 11-12 ini mulai berlayar dan meninggalkan garis start pada bulan Agustus 2011 lalu, berangkat dari kota Southampton, Inggris dan akan finish di kota itu juga.

"Reli ini dibagi menjadi delapan etape dari garis start hingga mencapai garis finish dan Nongsa Point Marina masuk dalam etape keempat yaitu start dari Autralia Barat dan finish di New Zeland," kata Race Manager Justin Taylor dalam sambutannya di acara welcome Dinner dengan Dinas Pariwisata Kota Batam, Kamis (27/1) malam.

"Batam adalah pemberhentian pertama dari garis start di Australia Barat pada etape keempat ini," Tambah Justin. Reli ini sendiri dijadwalkan akan tiba di garis finish di Southampton, Inggris, pada pertengahan tahun.

Senin, 23 Januari 2012

Citra Idol



Skolastika Citra Kirana Wulan, gadis yang memiliki wajah hitam manis ini berasal dari Yogyakarta. Citra begitu ia kerap dipanggil adalah gadis kelahiran 5 Juni 1993. Dia adalah finalis termuda pada kontes adu vokal ternama, Indonesia Idol tahun 2010 lalu.